Langsung ke konten utama

Cuma Rasa-rasanya



Selama studi S1, dulu, aku merasa fleksibel banget bertemu politisi, pemangku kepentingan, pejabat daerah, pekerja profesi, dan ahli bidang tertentu hingga ke lintas provinsi.

Padahal ini cuma "rasa-rasanya" saja bisa ngobrol rileks semeja, mesan kopi dan duduk dengan orang level berbeda. Bahkan beberapa temanku juga lebih intens diikutsertakan dalam berbagai acara.

Ini bukan persoalan studinya di perguruan tinggi, tapi "terdaftar resmi" sebagai "mahasiswa(dibaca :anak kos) " lah tiket untuk bisa bergaul dengan siapa aja. Ingin ketemu walikota misalnya, atas nama mahasiswa, ajak ngopi, kasih tema pertemuan "silaturahmi bersama walikota, selesai. Bila butuh dukungan kerja sosial, deketin caleg, malam ajak diskusi, beli kopi, selesai.

Bila status mahasiswa terus dilanjutkan ke jenjang S2, aku berfikir ini akan membuka akses untuk terus berkomunikasi dengan golongan terdidik, terpandang sekaligus punya peran sehingga diuntungkan dari segi social community. Walau belajar sebenarnya nyantai aja, terpenting kesana-kemari jalan.

Komentar



  1. Mahasiswa yang cerdas adalah Mereka yang bisa Mengembangi antara akademis Dan organisasi.

    good job bung abdul gani

    BalasHapus
  2. Wish you would write your reading here sir

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggugat kol goreng

Pagi sekali, bangun dari tidur, saya buka laptop buat melanjutkan tulisan investigasi pelacuran Gedang Sewu, tapi perut lapar sekali. Saya bergegas keluar mencari sarapan bersama teman dan berhenti di rumah makan pinggir jalan, disini lumanyan murah, cukup bawa uang 20 ribu buat berdua. Awalnya baik-baik saja, kami duduk bersabar menunggu makanan diantar. Pesanan saya tiba, ada ayam bakar dan sepiring nasi, minumannya teh hangat. 10 menit kemudian, pesanan teman juga tiba. Betapa menggugah seleranya  saya melihat udang goreng dan sotong,  rasanya saya mau berteriak "Sedaaap",  tapi batal karena melihat ada kol goreng. Bukan cuma aneh, tapi ini merendahkan budaya eropa. Kol ini sejenis kubis, di daratan asli tanaman ini tumbuh, orang-orang memperlakukannya sebagai lalapan mentah, ditumis dan juga dikasih kuah tapi tidak pernah menggorengnya.  Bagi orang yang memegang teguh budaya eropa, mungkin akan terkejut sa...

Jawaban bila ditanya kapan pulang

Keberangkatanku dari kampung halaman, dimata orang lain adalah hal mainstream,  dan banyak dilakukan oleh pemuda seusiaku. Beragam kesimpulan bisa terpikir tapi aku bertujuan lain.  Hampir tidak menyisakan sama sekali pemuda seusiaku di desa tempat aku dibesarkan. Semuanya berangkat, ada yang di Jakarta, di Medan dan manyoritas di Malaysia menjadi diaspora Aceh.  Bisa dibilang, budaya merantau pada masyarakat daerahku telah mendarah daging sebagai sebuah tradisi. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang memulainya, tapi phenomena ini terus ada dari generasi ke generasi.  Seingatku pernah dulu, masa dipaksa berlakunya ktp merah putih untuk semua penduduk di Aceh. Memasuki usia 17 tahun, atau tamat SMA, pemuda desa langsung berangkat ke malaysia dan memulai hidup baru disana, hal ini dikarenakan perang berkepanjangan membuat sulit membuka usaha di daerah.  Ada juga setelahnya, dimasa damai. Tiap aku menerima koran harian, di halaman depan, sela...